Belajar Daur Ulang Sampah

Setiap hari, manusia menghasilkan sampah dalam segala aktifitasnya. Menurut data dari Drs. Rasio Ridho Sani, MCOM, MpM selaku Deputi IV Bidang Pengelolahan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, dan Sampah, untuk kategori sumber rumah (permanen), per orang per hari rata-rata manusia menghasilkan sampah berkisar 0,8 kg. Jika dalam rumah minimal 5 orang, maka dalam sehari sampah yang dihasilkan per rumah adalah 4 kg per rumah. Tetapi sampah ini bukan merupakan barang-barang yang memang tidak ada gunanya, lebih dari 50% lebih sampah rumah tangga ini masih dapat dimanfaatkan kembali, atau istilahnya didaur ulang. Bagaimana caranya?

Pada Minggu di akhir bulan Februari 2017, OSIS SMP Tri Ratna berkunjung ke Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Muara Karang. Depo ini merupakan tempat belajar dan melatih diri untuk semua orang yang ingin memahami dan ikut serta melindungi bumi dari kerusakan, khususnya dalam menangani sampah. Kegiatan diawali dengan menonton film pendek inspirasi dan sosialisasi mengenai sampah. Menurut Bapak Agus, relawan di Depo, ada beberapa hal yang harus dipahami dalam menangani sampah, yaitu 5R, rethink; menimbang kembali sebelum membeli barang, reduce; mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah, reuse; memanfaatkan kembali barang-barang yang masih dapat digunakan, repair; memperbaiki barang yang rusak agar dapat digunakan kembali, recycle; mendaur ulang sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Barang-barang yang masih dapat dimanfaatkan kembali, dan Depo menerimanya untuk dimanfaatkan kembali adalah jenis kertas bekas, kaleng alumunium bekas, kaleng besi bekas, botol kaca bekas, botol plastik bekas, dan baju bekas. Sedangkan barang yang memang tidak bisa dimanfaatkan kembali dan tidak diterima di Depo meliputi styrofoam, potongan kayu, baterai, plastik makanan ringan, alumunium foil, pecahan kaca, bohlam lampu, potongan keramik dan bahan melamin. Barang-barang ini merupakan barang yang tidak dapat terurai dan yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa terurai.

Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktek langsung, dibimbing para relawan untuk mengelola sampah. Memilah kertas-kertas dan buku, memilah botol-botol bekas, kaleng-kaleng bekas, dipadatkan dan kemudian dikumpulkan ke dalam karung yang kemudian dijual kepada pengepul. Hasilnya digunakan untuk amal kegiatan sosial, seperti di bidang kesehatan, pendidikan, bencana alam, maupun kegiatan sosial lainnya. Seperti kata Bapak Agus, “Mengubah sampah menjadi emas, Emas menjadi cinta kasih”. Sampah pun dapat membantu sesama yang membutuhkan.

Harapannya, apa yang dipelajari dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya membantu melestarikan dan melindungi bumi dari efek yang tidak baik. Dapat dimulai dari sendiri, misalnya memulai kebiasaan baik seperti buang sampah selalu pada tempatnya, memilah-milah sampah, menghemat air, hemat energi listrik, mematikan peralatan listrik bila tidak digunakan, dan digunakan seperlunya, menggunakan alat makan dan minum yang dapat digunakan kembali. Masa depan bumi dan lingungan merupakan tanggung jawab kita bersama dan kita harus selalu konsisten peduli pada lingkungan sekitar.