Kebiasaan Seorang Pembelajar

Ketika kita dihadapkan pada suatu permasalahan, maka setiap orang mungkin berbeda dalam menghadapinya. Ada yang bereaksi negatif, menghindar, atau menghadapinya. Tetapi apa yang terjadi ketika seorang pembelajar diberikan permasalahan, yang terjadi adalah pemecahan-pemecahan permasalahan dengan kreatif.

Seperti halnya pada sebuah permainan yang diberikan Ibu Prajna Dewi, S.Sn., M.Pd. dalam sebuah seminar untuk para guru di Sekolah Tri Ratna, Sabtu 5 Agustus 2017. Dalam permainan kelompok sekitar 8 orang, diberikan tugas untuk memasukkan anggota kelompok ke dalam selembar koran. Tanpa tunggu lama, para guru dalam masing-masing kelompok langsung memecahkan permasalahnya dengan unik. Ada yang langsung menuliskan nama-nama ke dalam koran, menempelkan stiker nama ke koran, dan ada juga yang menggunting koran untuk membentuk lingkaran tempat anggota masuk ke dalam guntingan koran. Proses kreatif yang terjadi.

Menurut Ibu Dewi, selain harus kreatif, seorang pembelajar juga harus memiliki kebiasaan-kebiasaan baik seperti memiliki konsep diri yang positif, mau belajar dan mencoba teknik pembelajaran, jujur kepada diri sendiri dan orang lain, berpikir positif terhadap siswa dan orang lain, menghargai siswanya, mengakui kesalahan, mengoreksi dan belajar dari kesalahan, kreatif bukan reaktif, dinamis bukan statis.

Kemudian pada sesi kedua, Ibu Dewi memaparkan tentang Effective Teaching Strategies, poin-poin penting dalam pengajaran. Menurutnya, pengajaran yang baik harus menciptakan kesadaran akan pengetahuan dan membawa perubahan sikap dan perilaku. Seperti halnya ketika guru mengajarkan tentang membuang sampah pada tempatnya, anak-anak secara kognitif pasti sudah memahami, tetapi apakah sudah diterapkan ke dalam sikap dan perilaku? Inilah yang menjadi tantangan para guru dalam membangun ranah afektif dan psikomotor siswa selain ranah kognitif.

Banyak metode pengajaran yang mungkin sudah dipahami oleh para guru, dari ceramah, diskusi, simulasi, bermain peran, dan praktik. Tetapi yang perlu dikembangkan adalah metode pengajaran yang melibatkan banyak indera siswa. Semakin banyak indera siswa yang terlibat, akan semakin mudah siswa memahami pelajaran. Ditambah dengan teknik memori jangka panjang dengan mneumonik, chunking system, mind map, dan link system. Kegiatan belajar mengajar akan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

Menurut salah satu guru peserta Seminar, Bapak Siswanto, guru Matematika SMA Tri Ratna, “acaranya menarik dan asyik, menambah wawasan baru tentang metode pengajaran dan ketika kita menghadapi anak yang bermasalah, kita tidak melabeli anak dengan kata-kata negatif, tetapi lakukan pendekatan dan gali latar belakangnya, dan pemecahannya. Harapannya sering-seringlah diadakan seminar untuk meningkatkan kompetensi para guru dalam dunia pengajaran”.

Selain seminar, juga diadakan kegiatan pertemuan dengan Yayasan yang diwakili oleh Bapak Gunawan dan Ibu Jenty. Bapak Gunawan menggaris bawahi tentang motto sekolah, “Smart – Good – Mindfulness” yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan. Kemudian Ibu Jenty melanjutkan dengan program vegetarian yang dilaksanakan di sekolah pada tahun ajaran ini. Harapan ke depan dengan diadakannya kegiatan ini, para guru dapat meningkatkan kompetensi, kemampuan, terus belajar, sehingga membawa perubahan yang baik untuk anak didik.